PEMILU DAN EGOISME SANTUN

dinosmallSalam Egoisme Santun. Pemilu Legislatif berlalu dengan meghadirkan tiga tim papan atas, tujuh tim papan tengah, dan dua tim papan bawah yang bersiap-siap degradasi. Agakanya inilah bahasa kompetisi liga sepakbola yang bisa disematkan ke hasil pertarungan politik 9 April 2014 lalu. Banyak spekulasi bermunculan terkait rencana koalisi sejumlah parpol. Namun sesungguhnya yang diperankan hanyalah sikap egoisme belaka. Hanya saja egoisme itu dibalut dengan kemasan “santun”. Ya santun, istilah ini mulai mewacana akhir-akhir ini diantara para capres.

Setidaknya egoisme santun bisa dilihat dari aktivitas seseorang yang terus “ngeloyong” politik ke sejumlah parpol di tengah-tengah kesibukannya sepagai pejabat publik dari wilayah yang menjadi miniatur Indonesia. Ada juga tokoh yang terus muncul di media meyakinkan publik bahwa “kami tidak perlu mengajukan cawapres, karena ini adalah demi kepentingan bangsa”. Wow, normatif, mulia dan berwibawa, semoga saja. Ada juga orang terkenal di kalangan masyarakat relijius yang mulai jual mahal dengan menobatkan diri sebagai cawapres. Atau seseorang yang sangat pede untuk tetap nyapres dengan memasang dua kaki supaya kalau tidak ada rotan akar pun jadi.

Egoisme santun juga diperankan sejumlah parpol bernuansa agama. Bila sejumlah pengamat ada meyakini kekuatan poros tengah sebagai alternatif yang hebat. Tetapi kalau mau jujur ini adalah seperti mimpi di siang bolong. Kelompok alternatif papan tengah ini semuanya sulit untuk mencapai kata sepakat, karena mereka dijangkiti penyakit apollo syndrome. Memang semua belajar menunjukkan diri sebagai nasionalis tulen, tetapi mereka juga secara tidak sadar menunjukkan diri sebagai yang paling paham agama. Alhasil, semua merasa pinter agama dan lebih baik nyantol dengan yang dianggap kurang paham agama, supaya kelihatan paling santun dan menjadi “guru agama”. Egosime santun yang menjadi fokus masalah di poros ini adalah isu trauma sejarah. Maka ramai-ramai semua mengingatkan bagaimana kekecewaan di masa lalu ketika aliansi antar sesama orang seiman bergabung.

Egosime santun berikutnya adalah yang didengungkan para klaimer nasionalis sejati. Dengan wajah memperjuangkan kepentingan bangsa, martabat bangsa mereka sibuk mengangkat emosional rakyat negeri ini untuk kembali pada cita-cita pasal 33 UUD 1945. Meskipun hampir mustahil capres yang mau menang hari ini menjadi nasionalis sejati. Semua capres harus market oriented. Disukai pasar, disukai cukong, disukai investor, disukai bubble economic, disukai mafia Berkeley dan lain-lain. Ya kalau sepanjang masih wajar (think globally, act locally) dan tidak membebek berjamaah pada kekuatan imperialis sah-sah saja. Tetapi kalau sampai jual-jual aset negara seperti terjadi 13 tahun lalu, inilah yang luar biasa dan luar binasa.

Indonesia memang butuh presiden kelas dunia, yang mau blusukan ke negara lain. Disegani bangsa-bangsa lain karena elegan, penuh komitmen dan visi yang jelas. Bukan sekedar presiden jago kandang yang malah manjadi guyonan dan bulan-bulanan para bule. Indonesia harus maju bermartabat dan sejahtera, itu pasti. Tetapi bukan sekedar meningkatkan derajat buleisme, namun mau bangkit mencari akar yang kuat untuk mempertahankan diri dari derasnya air neo liberal. Bukan memasrahkan diri untuk mengikuti kemana air itu akan membuang kita di hilirnya nanti seraya mengambil keuntungan material dari anugerah neo liberal.

Selamat menentukan nasib bangsa, salah pilih bangsa ini akan bersiap menjadi jongos di negerinya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*