Tulisan

MANAGEMENT13smPemimpin: Menang karena Respek

Misbahuddin Azzuhri

“Setiap Anda adalah pemimpin”. Begitulah ungkapan bijak yang sering terdengar dalam kehidupan. Bahkan motivator terkenal pun menjadikannya sebagai “kalimat sakti” yang bisa menghipnotis orang untuk bangkit. Ungkapan tersebut memang sangat populer, bahkan saat ini nurani publik sudah memahaminya sebagai sesuatu yang benar. Namun pada kenyataannya, mainstream publik masih meyakini bahwa perasaan menjadi pemimpin baru muncul kala sebuah tAnda jabatan disematkan di dadanya, dan ia dilantik oleh pejabat di atasnya. Sementara itu sehari-hari, ia hanya memimpin dengan sebuah buku, yaitu buku peraturan alias SOP. Buku inilah yang menjadi “buku sakti” dalam mengemban pekerjaan dan atau profesinya. Ia hanya mau tanda tangan dan menyetujui kegiatan kalau “rule” nya ada di buku. Kata orang ia adalah orang yang jujur dan taat perintah. Praktis hampir tak pernah ada kesalahan yang ditimpakan kepadanya, karena ia adalah orang yang benar-benar taat aturan.

[youtube]https://www.youtube.com/watch?v=Ve1LsqxIA04[/youtube]

Orang tersebut di atas jumlahnya cukup banyak, dan tentu saja benar bahwa mereka adalah pemimpin, namun yang membedakan mereka dengan yang lain tentu adalah tipenya, sebab untuk menjadi pemimpin dibutuhkan lebih dari sekedar aturan, melainkan juga terobosan dan respek. Sebuah organisasi bisa saja tertib dan teratur, tetapi bisa saja ia mati karena peraturan terlambat merespons perubahan, dan peraturan yang ada bukan lagi diadakan untuk manusia, melainkan manusia untuk peraturan. Jika logika ini mengemuka, sudah pasti kepemimpinan ini jauh dari semangat kewirausahaan. Sebab kalimat motivasi para entrepreneur menyatakan “manusia tidak bekerja untuk uang, namun uang bekerja untuk manusia”.

Supaya tidak membingungkan, John Maxwell membuat peringkat yang disebut pemimpin. Orang yang dibicarakan di atas benar adalah pemimpin, tetapi baru sekedar pemimpin di atas kertas, yaitu pemimpin level satu. Pemimpin yang sempurna adalah pemimpin level 5, yang disebut sebagai Spiritual Leader, yaitu pemimpin yang dituruti, karena respek dan direspeki. Dengan demikian ada 5P-nya pemimpin dalam tulisan ini adalah, Position, Permission, Production, People Development, dan Personhood. Masing-masing “P” tersebut akan berpasangan dengan produknya, yang disebut Maxwell sebagai 5R, yaitu Rights, Relationships, Results, Reproduction dan Respect.

Pada pemimpin level 1, seseorang dituruti semata-mata karena posisinya. Ia duduk di sana karena ia memegang hak tertulis (rights). Orang-orang mengikutinya, karena suatu keharusan. Celakanya, semakin lama ia berada di posisi itu akan semakin mundur organisasi. Organisasi akan ditinggalkan oleh karyawan-karyawan kelas satunya yang menyukai terobosan dan laku di pasar. Sementara itu morale kerja merosot drastis dan image sebagai organisasi yang disegani tak lagi terdengar, malah sebaliknya.

Pemimpin ini sebaiknya segera memperbaiki diri. Ia bisa menapak naik ke level dua, yang disebut permission (sedikit di atas otoritas). Ia tidak melulu mengacu pada peraturan tertulis, melainkan mulai menghargai orang-orang yang melakukan terobosan sebagai warna yang harus diterima. Orang-orang pun senang dan menerima kepemimpinannya bukan lagi semata-mata karena rights, melainkan relationship. Mereka mengikuti karena mereka menghendakinya. Tetapi kalau cuma sekedar relationship saja, dan orang-orang merasa senang maka ia bisa menjadi pemimpin yang populis, yang anak-anak buahnya tidak terpacu untuk maju.

Oleh karena itu, idealnya seorang pemimpin naik lagi ke level tiga, yaitu maju dengan kompetensi dan memberi hasil yang dapat dilihat secara kasat mata. “P” ketiga ini disebut Production, dan orang-orang di bawahnya mau mengikuti kepemimpinannya karena Results, yaitu hasil nyata yang tampak pada kesejahteraan mereka dan kemajuan organisasi. Pemimpin pun senang karena pekerjaannya dengan mudah diselesaikan oleh orang-orang yang dedikatif, bekerja karena momentum. Biasanya level tiga ini berdampingan atau tipis sekali batasnya untuk melompat ke level empat. Ini hanya soal kemauan berbagi saja dan relatif tidak sulit karena hasilnya ada dan bukti-buktinya jelas. “P” ke 4 ini disebut People Development dan hasilnya diberi nama Reproduction. Pemimpin level 4 adalah pemimpin langka yang bukan cuma sekedar memikirkan nasibnya sendiri, melainkan juga nasib organisasi. Ia tidak rela sepeninggalnya ia dari organisasi, lembaga itu mengalami kemunduran, maka kalau ia tak bisa memilih sendiri pengganti-penggantinya, ia akan memperkuat manajer-manajer di bawahnya agar siapapun yang menjadi pemimpin organisasi akan terus bergerak maju ke depan. Tentu saja tidak mudah mendeteksi pemimpin tipe ini selain dari apa yang ia lakukan untuk mengembangkan calon-calon pemimpin. Biasanya kita baru bisa menyebut Anda berada pada level empat kalau Anda sudah pensiun, sudah tidak duduk di sana lagi. Pada waktu Anda meninggalkan kursi Anda, maka baru bisa kita lihat apakah orang-orang yang dihasilkan benar-benar mampu meneruskan kemajuan atau malah mundur. Tentu saja maju-mundurnya organisasi paska kepemimpinan Anda sangat ditentukan oleh pemimpin berikutnya, tetapi kita dapat membedakan dengan jelas siapa yang membuat ia maju atau mundur.

Kepemimpinan level 5 ini oleh Jim Collins disebut sebagai pemimpin dengan professional will dan strategic humility. Jalaluddin Rakhmat menyebutnya sebagai Spiritual Leader yang tampak dari perilaku-perilakunya yang merupakan cerminan dari pergulatan batin dalam jiwanya (inner voice). Orang-orang seperti ini tidak mencerminkan kebengisan, melainkan ketulusan hati. Ia bisa saja mengalami benturan-benturan, tetapi semua itu bukanlah kehendaknya pribadi. Orang yang baik hati seperti Gandhi saja toh ternyata juga dicaci maki dan dibunuh, tetapi satu hal yang jelas, ia diikuti oleh banyak orang karena dirinya dan apa yang ia suarakan. Mereka patuh karena respek. Mereka tahu persis bahwa bahaya terbesar akan terjadi kala mereka mulai populis, yaitu ingin disukai semua orang ketimbang direspeki.

Respek merupakan kunci menggapai kemenangan. Menangnya seorang pemimpin bukan berarti setelah mengalahkan orang lain lantas melenggang ke panggung kekuasaan. Atau setelah berada di atas bisa berseloroh “sekarang siapa di atas dan siapa di bawah”. Kemungkinan besar logika ini berkembang karena mereka berharap dimenangkan dan orang lain menjadi kalah. Padahal lagi-lagi ungkapan bijak menyatakan: “menanglah tanpa mengalahkan orang lain”. Artinya, setiap Anda pasti berharap agar dimenangkan. Namun dalam konteks ini harapan terbaik adalah menjadi orang yang tidak menangis ketika kalah, bukan sebaliknya menjadi pemenang karena bisa mengalahkan orang lain. Dari sinilah kepatuhan karena respek bisa berkembang. Mengapa? Karena masing-masing peduli akan kemajuan organisasi. Semua akan bekerja karena respek pada hasil yang terbaik. Sebab hasil yang terbaik mendatangkan sesuatu yang terbaik pula bagi diri mereka.

Martin Luther King Jr. berkata, “Jadilah tukang sapu jalanan layaknya Michael Angelo melukis atau Shakespeare menulis puisi, sehingga segenap penghuni bumi akan tertegun lalu berujar, Wahai inilah tukang sapu jalan yang melakukan tugasnya dengan baik.” Artinya siapapun Anda, apapun posisi Anda, bekerjalah karena respek. itulah yang ditempuh banyak orang untuk memetik keberhasilan. Anda perlu mempelajari minat, bakat, dan kemampua. Peluang tidak pernah berujung. Banyak orang yang tidak kreatif dengan kemampuannya sendiri. Mereka malah mengharap kemampuan yang tidak dimiliki, sementara kemampuan sendiri tidak dimanfaatkan. Ini ibarat orang pendek kecil menghampiri kawannya yang tinggi besar, lalu berkata: “Kalau badanku sebesar kamu, akan kurambah gunung, kutangkap beruang terbesar, lalu kurobek-robek badannya.” Si besar menatap si kecil sambil tersenyum, “Beruang kecil kan juga banyak di hutan!”

Renungkanlah itu. Anda pernah mengeluh karena tidak mampu mengatasi beruang besar, sementara beruang-beruang kecil yang bisa anda atasi menari-nari di sekitar anda? Kita harus respek pada apa yang kita punyai, di mana kita berada, dan mengambil yang terbaik dari situ dengan jalan memimpinnya. Itulah mengapa “setiap Anda adalah pemimpin”. Selamat memimpin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*